Home » , » Journal Review (Educational Psychology task)

Journal Review (Educational Psychology task)

Written By Anonim on Selasa, 04 Juli 2017 | Juli 04, 2017



MK. Psikologi Pendidikan & Pengembangan Peserta Didik
JOURNAL REVIEW


BY :
DEVI SAFITRI
NIM. 20400115055
PBI 3








JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN ALAUDDIN MAKASSAR
2017

Review Jurnal
Judul
Hubungan antara Sikap, Kemandirian Belajar, dan Gaya Belajar dengan Hasil Belajar Kognitif Siswa
Penulis
Syamsu Rijal dan Suhaedir Bachtiar
Nama Jurnal
Jurnal BIOEDUKATIKA Vol. 3 No. 2 Desember 2015 ISSN: 2338-6630, Halaman 15-20
Latar Belakang
-        Jika seseorang dapat mengenali gaya belajar sendiri, maka orang tersebut dapat mengelola pada kondisi apa, di mana, kapan dan bagaimana seseorang dapat memaksimalkan belajar. Biologi merupakan salah satu mata pelajaran yang didalamnya mengandung berbagai istilah-istilah latin serta materi yang begitu kompleks membuat siswa jenuh belajar, bahkan merasa sulit untuk memahaminya. Pemberian strategi maupun metode yang telah diberikan oleh guru di kelas tidak selamanya mampu mengakomodasi kebutuhan belajar siswa. Olehnya itu selain sikap dan gaya belajar sebagai penunjang pembelajaran, kemandirian belajar siswapun dituntut agar mampu memahami dan menguasai pelajaran.
-        Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara variabel sikap, kemandirian belajar dan gaya belajar dengan hasil belajar kognitif biologi.
-        Gaya belajar seseorang merupakan kombinasi dari menyerap informasi dengan mudah dan kemudian mengatur serta mengolah informasi tersebut (DePorter dkk, 2008). Setiap siswa menggunakan ketiga gaya ini pada tahapan tertentu, akan tetapi salah satu dari ketiganya cenderung lebih menonjol.
Metode Penelitian
-        Penelitian ex post facto
-        Seluruh siswa di SMA Negeri 1 Ajangale Kabupaten Bone yang terdiri dari 21 rombongan belajar. Tiap rombongan belajar berjumlah 38 orang siswa, jadi total populasi dalam penelitian adalah 798 orang siswa.
-        Pemberian angket (kuesioner) kepada siswa.
-        Analisis statistik inferensial dengan uji korelasi product moment, regresi sederhana dan berganda.
Hasil Penelitian
Analisis Hubungan antara Sikap dengan Hasil Belajar Kognitif
Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa nilai sikap siswa terhadap pembelajaran biologi di SMA Negeri 1 Ajangale Kabupaten terdapat 49% siswa berada pada kategori negatif dan 51% berada pada kategori positif. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat sikap positif siswa dalam pembelajaran biologi.
Analisis Hubungan antara Kemandirian Belajar dengan Hasil Belajar Kognitif
Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa kemandirian belajar siswa di SMA Negeri 1 Ajangale Kabupaten Bone termasuk dalam kategori tinggi dengan jumlah responden 120 atau 57%. Kemandirian belajar siswa yang tinggi ini merupakan salah satu faktor penyebab hasil belajar kognitif biologi yang diperoleh berada pada kategori tinggi. Kemandirian belajar memberikan konstibusi sebesar 33,5% terhadap hasil belajar kognitif biologi.
Analisis Hubungan antara Gaya Belajar dengan Hasil Belajar Kognitif
Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa tipe gaya belajar siswa di SMA Negeri 1 Ajangale Kabupaten Bone didominasi oleh tipe visual sebanyak 90 siswa atau 42%. Gaya belajar tipe auditori sebanyak 66 siswa atau 31%. Tipe kinestesik sebanyak 25 siswa atau 17%. Selebihnya tipe gaya belajar kombinasi hanya sebesar 10%. Nilai persentase sebesar 42% pada tipe visual menunjukkan kecenderungan siswa dalam proses pembelajaran biologi menitik beratkan ketajaman penglihatan.
Analisis Hubungan antara Sikap, Kemandirian dan Gaya Belajar dengan Hasil Belajar Kognitif
Hasil penelitian terkait korelasi keempat variabel yang diteliti yaitu sikap, kemandirian belajar dan gaya belajar siswa dengan hasil belajar kognitif biologi di SMA Negeri 1 Ajangale Kabupaten Bone, menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara sikap, kemandirian belajar dan gaya belajar siswa dengan hasil belajar kognitif. Hubungan yang diperoleh diantara variabel tersebut tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa.
Kesimpulan
1.      Terdapat hubungan yang positif antara sikap siswa dengan hasil belajar kognitif Biologi, dengan nilai korelasi sebesar 0,621.
2.      Terdapat hubungan yang positif antara kemandirian belajar siswa dengan hasil belajar kognitif Biologi, dengan nilai korelasi sebesar 0,579.
3.      Terdapat hubungan yang positif antara gaya belajar siswa dengan hasil belajar kognitif Biologi, dengan nilai korelasi sebesar 0,577.
4.      Terdapat hubungan yang positif antara sikap, kemandirian belajar dan gaya belajar siswa dengan hasil belajar kognitif Biologi di SMA Negeri 1 Ajangale Kabupaten Bone.
Review/komentar
Dari pembahasan jurnal tersebut, dijelaskan bahwa ada upaya-upaya yang yang dilakukan dalam meningkatkan sikap siswa terhadap pembelajaran biologi seperti pemanfaatan elektronik, media cetak, dan peranan orang tua. Ketiga hal tersebut belum cukup, hal yang paling penting adalah dari pengajarnya atau gurunya. Mengapa demikian? Walaupun gurunya sudah memanfaatkan media-media yang telah disediakan pihak sekolah, jika gurunya tidak mampu mentransfer ilmunya dengan baik dan kreatif, siswa kadang akan merasa jenuh dengan pelajarannya. Selain itu, untuk meningkatkan sikap positif siswa terhadap pelajaran biologi, guru juga seharusnya mampu melakukan pendekatan terhadap siswanya. Tidak hanya sekedar sebagai pengajar, tapi juga bisa menjadi teman siswanya, yang kemudian siswanya nanti bisa semangat ketika belajar biologi karena gurunya yang friendly. Hal ini sesuai dengan teori belajar humanistik.



Judul
PENERAPAN TEORI BEHAVIORISTIK UNTUK MEMINIMALISIR PENGGUNAAN HANDPHONE PADA JAM PEMBELAJARAN 3 SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 TERAS KABUPATEN BOYOLALI TAHUN PELAJARAN 2014/2015
Penulis
Dimas Eko Saputro
Nama Jurnal
Naskah Publikasi Ilmiah, 2015
Latar Belakang
-        Tantangan dunia pendidikan adalah etika, etika moral seorang siswa, hal ini tercermin dari ditemukannya beberapa handphone siswa yang berisikan video porno, hal ini menunjukkan kurangnya kesadaran siswa akan moral. Kini dunia handphone adalah dunia untuk berkomunikasi, berbagi, mencipta dan menghibur dengan suara, tulisan, gambar, musik dan video. Disamping harga yang ditawarkan cukup terjangkau, berbagai fitur handphone juga diberikan sebagai penunjang majunya teknologi.Namun terkadang juga handphone dapat mengganggu atau memiliki beberapa hal negatif diantaranya tempat untuk menyimpan gambar-gambar porno,atau menggunakan handphone saat tengah diadakan proses belajar yang dapat mengganggu siswa atau perhatian dan minat mereka dalam belajar menjadi berkurang di karenakan mereka lebih sibuk untuk saling berkiriman pesan.
-        Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui ” Bagaimana efektivitas konseling behavioristik untuk mengatasi penggunaan handphone pada jam pembelajaran 3 siswa kelas VIII di SMP N 1 Teras Kabupaten Boyolali Tahun pelajaran 2014/2015”
-        Menurut Sayekti ( 2002 : 80 ) yang dipakai oleh behavior therapy adalah belajar. Belajar yang dimaksud di sini adalah perubahan tingkah laku yang disebabkan bukan karena kematangan .teori belajar yang dipakai dalam pendekatan ini sebagai aplikasi dari percobaan – percobaan tingkah laku dalam laboratorium. Para ahli barasumsi bahwa seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar,dan juga tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip – prinsip belajar.
Metode Penelitian
-        Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh penulis tentang penelitian ini. Adalah Konseling Behavioristik untuk meminimalisir penggunaan HP pada saat jam pembelajaran kelas VIII mengikuti paradigma penelitian deskriptif kualitatif. Strategi penelitian sangat tergantung pada hasil konseling Behavioristik dan peneliti terjun langsung atau melakukan observasi partisipatif, karena dalam eksplorasi kasus ternyata ada 3 siswa yang termasuk kategori mengoperasikan HP pada saat jam pembelajaran.
-        3 Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Teras Kabupaten Boyolali Tahun Pelajaran 2014/2015
-        Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan observasi.
-        Keabsahan data yang digunakan adalah teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik, sedang untuk menganalisis datanya digunakan deskriptif kualitatif dengan langkah-langkah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Hasil Penelitian
Temuan Studi yang di Sekolah dan di Lapangan
Kondisi Realitas Anak di Sekolah
Dari hasil pengamatan guru BK maupun wali kelas diperoleh data bahwa ada 3 siswa yang ber kebiasaan mengoperasikan HP pada saat jam pembelajaran.
Kajian Teori Yang Dihubungkan Dengan Studi Di Lapangan
Upaya bimbingan dan konseling siswa lebih lanjut
Dari hasil pengamatan terhadap data peserta didik yang gemar menggunakan handphone pada jam pembelajaran, ditemukan beberapa kondisi yang perlu ditindaklanjuti demi penuntasa permasalahan siswa yang terkait dengan menggunakan handphone, antara lain:
1.      Meningkatkan kumunikasi antara guru,dengan siswa. Hal ini perlu dilakukan agar siswa mendapatkan perlakuan yang sama di kelas maupun di sekolah.
2.      Mengedepankan komunikasi dengan siswa setiap kali menemui permasalahan.
3.      Siswa di harapkan sering bertanya atau bertukar pikiran dengan guru BK tentang permasalahan yang ada di sekolah.
Kesimpulan
Setelah melakukan pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara maupun dokumentasi yang kemudian hasil penelitian tersebut di analisis, maka dapat disimpulkan bahwa: sebelum diberikan konseling behavior siswa mengoperasikan HP setiap jam pembelajaran berlangsung, siswa tidak memperhatikan pelajaran, nilai akademik kurang maksimal, sulit berkonsentrasi terhadap pelajaran. Setelah dikonseling melalui behavior terapi selama satu bulan, maka ada perubahan kearah yang lebih baik.
Review/komentar
Penelitian ini cukup sederhana tapi sangat bermanfaat. Karena di dalam penelitian ini, dilakukan Behavior Therapy yang tujuannya dalah untuk membantu klien untuk membuang respon-respon yang lama yang merusak diri, dan mempelajari respon-respon yang baru yang lebih sehat. Meskipun tidak dijelaskan dengan rinci di dalam jurnal tersebut mengenai teknik yang digunakan (caranya klien dibuat rilex, kemudian membayangkan hal yang disenangi dan yang tidak disenangi), saya berusaha mencari beberapa informasi melalui internet tentang teknik yang digunakan tersebut. teknik Covert Sensitization ini memang cocok digunakan untuk penyembuhan kecemasan, termasuk kecemasan jika tidak memgang handphone. Ketika kita mempunyai kecemasan terhadap sesuatu, kecemasan itu harus selalu dibayangkan atau dihadapi. Maksudnya, jika subjeknya tidak bisa lepas handphonenya, kliennya itu harus dihadapkan pada kondisi yang dia tidak sukai yaitu tidak memegang handphonenya. Tapi secara bertahap. Disini peran dari penelitinya sangat penting, bagaimana peneliti mampu membuat rileks si kliennya dulu baru mengantarkan klien ke situasi yang tidak disukainya secara bertahap. Saya sangat tertarik dengan penelitian yang satu ini, karena memberikan saya informasi mengenai teknik agar kita bisa merubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang lebih baik melalui bihavior therapy.



Judul
What counts as effective input for word learning?
Penulis
Laura A. Shneidman, Michelle E. Arroyo,
Susan C. Levine and Susan Goldin-Meadow
Nama Jurnal
BRIEF RESEARCH REPORT, 2011.
Latar Belakang
-        Many studies have demonstrated the important link between childdirected speech from a primary caregiver and the child’s lexical, semantic and syntactic development. However, to our knowledge, no study has considered the impact that input from other naturalistic sources has on children’s later language development. Many children live in households where multiple adults and other children are present for large portions of the day. In such households, young children are likely to hear speech directed to them from older siblings and other household members. Moreover, these children are likely to overhear speech not directly addressed to them at all. Little is known about the frequency of speech from these input sources in multi-party households, nor about the impact that speech input from different sources has on children’s later language outcomes.
-        The goal of this article is to begin to address these issues by considering lexical input and vocabulary development in children growing up in households where multiple speakers are regularly present.
-        Experimental evidence suggests that children have the ability to learn new words from overhearing speech (e.g. Akhtar, 2005; Akhtar, Jipson & Callanan, 2001; Floor & Akhtar, 2006; Shneidman, Buresh, Shimpi, Knight-Schwartz & Woodward, 2009). At age 1;6, children can learn a novel object label from an overheard utterance when the learning task is sufficiently simplified (i.e. when children are tested immediately following a labeling demonstration; Floor & Akhtar, 2006). By age 2;6, children show a robust ability to learn from overheard interactions in an experimental paradigm (Akhtar, 2005).
Metode Penelitian
-        Thirty monolingual English-speaking families containing a target child were selected from a sample of sixty-five families participating in a longitudinal study of language development in the greater Chicago area.
-        Documentation
-        Videotape
-        Kualitatif and kuantitatif
Hasil Penelitian
Child language at 2;6 and 3;6
On average, the groups did not differ in either the size of their productive vocabularies at 2;6 or their receptive vocabularies at 3;6. We turn next to a comparison of the linguistic environments to which children growing up in the multi-speaker vs. single-speaker groups were exposed at 2;6.
Linguistic environment in single-speaker and multi-speaker households
The children in our study who spent many hours with a variety of speakers heard more input overall (equal amounts of speech directed to them, and more overheard speech) than children who spent most of their waking hours with a single caregiver.
Input from the primary caregiver and vocabulary development
There were no group or interaction effects. Since word tokens and word types are highly correlated in our sample (r=0.94, p<0.001), it is impossible to determine which measure better accounts for the relation between input and vocabulary.
Input from all sources and vocabulary development
Our findings underscore the fact that not all input has equal potential for supporting word learning. We found that speech directed to the child uniquely predicts children’s PPVT score. If we consider only speech overheard by the child in a model that predicts PPVT score, we find no relation between input and vocabulary (b=x0.06, p=0.80, for overheard tokens; b=x0.06, p=0.82 for overheard types). There appears to be something special about speech directed to the child for informing lexical development.
Kesimpulan
For children in our study who routinely heard talk from many speakers, the size of their receptive vocabulary, as measured by the PPVT, was related to talk directed to them by all speakers, not just their primary caregiver. Interestingly, however, overhead speech did not add predictive value to this relationship. Thus, not all speech that children hear is equally relevant for word learning, at least in a culture where children are routinely addressed directly. Our data do not speak to children growing up in cultures where they are rarely addressed directly, and where they may, by necessity, make more effective use of overheard speech.
Review/komentar
Yang saya pahami dari jurnal ini adalah anak-anak yang sering mendengarkan orang lain berbicara, baik itu dari keluarganya atau pun dari pengasuhnya, tidak menambah perbendaharaan kata yang dimiliki anak, kecuali kata itu sering digunakan dalam kesehariaannya atau sering didengarkan. Selain itu, apa bilai kata itu juga tidak sesuai dengan kebudayaan sang anak, maka juga akan sulit bagi anak untuk memasukkan kata tersebut ke dalam kosa katanya sendiri. Tapi dari pengalaman pribadi, walaupun kata itu hanya sekali saya dengar, jika kata itu berkesan maka saya akan sering mengingatnya. Mungkin dari jurnal ini masih membutuhkan penelitian yang lebih lanjut agar peneliti bisa mengetahui bagaimana anak belajar kosa kata.

Judul
Social development of children with mental retardation
Penulis
Indrabhushan Kumar, Amool R. Singh, S. Akhtar
Nama Jurnal
Industrial Psychiatry Journal, 2009, Vol 18
Latar Belakang
-        Becoming socialized involves 3 processes: i) learning to behave in socially approved ways, ii)      playing approved social roles and iii) development of social attitudes (Hurlock, 1967). For people with mental retardation, their eventual level of social development has implication for the degree of support needed in their literacy arrangement and their integration in the community with increasing emphasis on mainstreaming the attainment of skills in personal, domestic and community functioning. It also contributes considerably to quality of life. Thus investigation of factors that may facilitate or inhibit social development assumes particular importance. Mentally retarded children, due to low intellectual growth, function with a limited capacity in comparison to normal children. Shastri and Mishra (1971) assessed 56 school-going children (aged 6- 13 years) with mental retardation with the help of Social Maturity Scale and found that the mentally retarded children function more in the lower level of social interaction. They also found that the level of social development varies with the intellectual level among persons with mental retardation, or a wide range of family and environmental variables may also influence social development.
-        In the light of the above investigation, the present study was designed with the following aims: (1) to find out the effects of severity of mental retardation on social development, along with possible correlation with social quotient (SQ) and IQ, which will eventually help in formulating appropriate training management and rehabilitation of mentally retarded children; and (2) to find out the relationship between age and social development.
-        Mental retardation (MR) is one of the most distressing handicaps in any society. Development of an individual with mental retardation depends on the type and extent of the underlying disorder, the associated disabilities, environmental factors, psychological factors, cognitive abilities and comorbid psychopathological conditions (Ludwik, et al., 2001). Social development means acquisition of the ability to behave in accordance with social expectations (Pati et al., 1996).
Metode Penelitian
-        Mentally retarded children were identified on the basis of International classification of disease 10th revision (Diagnostic criteria for research). Informed consent was taken from the informants before eliciting relevant information, and the nature and purpose of the study were explained. All subjects who were selected for the present study were interviewed and then assessed for IQ with the help of Stanford Binet Intelligence Scale. Thereafter, Vineland Social Maturity Scale was administrated to know the level of social development of each subject.
-        The present study was carried out on a sample of 35 mentally retarded children (mean age, 14.17 years; SD, 5.5) chosen at random from the Central Institute of Psychiatry, Kanke, Ranchi (Jharkhand). The sample included 19 males and 16 females. Children with comorbid epilepsy, sensory deficit (like impairment of vision, hearing), other psychiatric disorders and physical problems were excluded.
-        Data has been analyzed using means, standard deviations, Kruskal-Wallis (nonparametric) one-way ANOVA test, chi-square test and Pearson correlation on social quotient.
-        Specially designed socio-demographic data sheet, vineland social maturity scale (Nagpur adaptation), stanford Binet intelligence scale (Hindi adaptation).
Hasil Penelitian
Computed value of Pearson correlation coefficient between IQ and SQ was.785, which is significant. This may indicate relationship between IQ and SQ, i.e., relationship between intellectual capacity and social development. This study shows that as the level of mental retardation increases, social development decreases correspondingly. There was no impact of the age factor on the social development of mentally retarded children.
Right from the very beginning, there is an effective role for parents, teachers and other professionals in the enhancement of social skills of mentally retarded children. This study opens the path for research to determine whether there is any impact of special education and training on the social development of mentally retarded children of various age groups.
Because of time constraints and excessive workloads, trained psychologists are unable to assess the IQ, as the number of clinical psychologists throughout India is about 600‑700 (Nathawat et al., 2001). Therefore, other methods are required for IQ assessment. Among the various techniques, social development scale is a very important method to determine one’s IQ. This social development scale is relatively easy to administer and has practical application in the assessment of IQ. It has also been found important in the management of disabled persons. SQ and IQ are highly correlated (.80) on the Stanford Binet Intelligence Scale; and the same has been found in the index study as well. Magnitude of MR is known by SQ where IQ testing is not possible.
Kesimpulan
It can be concluded that the social quotient increases as level of mental retardation decreases from profound to mild. The social quotient across different age ranges does not differ significantly. Clinical psychologists who are working with underprivileged children/individuals may use the Vineland Social Maturity Scale as a rapid screening test for determining IQ and capacity for social adjustment.
Review/komentar
Yang saya tangkap dari jurnal tersebut, jika semakin meningkat retardasi mental seseorang, maka perkembangan sosial juga menurun. Keterbatasan mental memang kadang sangat mempengaruhi kehidupan kita di masyarakat. Kadang mereka sulit menerima kehadiran orang-orang yang berbeda secara mental atau fisik. Hal ini yang membuat orang-orang dengan reterdasi mental sulit untuk berbaur dengan lingkungannya. Di pembahasannya masih belum menjelaskan apakah penurunan perkembangan sosial yang diakibatkan dari reterdasi mental dapat mempengaruhi IQ seseorang. Tapi menurut saya hal ini sebenarnya ada pengaruhnya, karena setiap anak dilahirkan memiliki intelegensi masing-masing. Namun, jika anak tersebut tidak dapat mengembangkannya di dunia sosial mereka, hal ini juga dapat menghambat apa yang menjadi kelebihan mereka. Disinilah teori humanistik dibutuhkan lagi, terkhusus peran orang tua yang menjadi orang paling dekat. Saya sangat setuju dengan adanya rehabilitasi untuk orang-orang yang mengalami reterdasi mental. Orang tua harus memberikan support kepada anak-anak mereka dengan cara memberikan pelatihan, pengelolaan, dan rehabilitas. Ini dimaksudkan agar anak mampu menghadapi dunia luar (percaya diri) dengan kelebihan yang mereka miliki di balik keterbatasannya.

Judul
Medical students’ academic emotions: the role of perceived learning environment
Penulis
Naeimeh Kohoulat, Ali Asghar Hayat, Mohammad Reza Dehghani, Javad Kojuri, and Mitra Amini
Nama Jurnal
Journal of Advances in Medical Education & Professionalism, 2017 Apr; 78–83.
Latar Belakang
-        For many decades, the studies which investigated the relationship between student outcomes and their perceptions of the classroom environment have shown that that there is an association between student outcomes and learning environment. Actually, it is stated that there is a relationship between students’ perceptions of classroom and learning environment and their cognitive, affective, emotional and behavioral outcomes.
-        The goal of this study was to examine the effects of students’ perceived learning environment on their academic achievement emotions.
-        Specifically, Bloom described the educational or learning environment concept as “the conditions, forces, and external stimuli which challenge on the individual. These may be physical, social, as well as intellectual forces and conditions”. Bloom regarded the environment as providing a network of “forces and factors which surround, engulf, and play on the individual”. Genn explained the learning environment as “the curriculum’s most significant manifestation and conceptualization, educational and organizational, which embraces everything that is happening in the medical school”
Fraser and Fisher in their study on affective and cognitive outcomes of the perceived classroom environment found positive correlations between perceptions of participation, affiliation, involvement, order and organization, task orientation and rule clarity in the class and the students’ average enjoyment of science lessons.
Metode Penelitian
-        The research method used was descriptive-correlative.
-        The statistical population consisted of medical students of Shiraz University of Medical Sciences. Stratified sampling method was used to select 342 participants.
-        Self-report questionnaires of Dundee Ready Educational Environment Measure (DREEM) and Achievement Emotions Questionnaire (AEQ).
-        All descriptive statistics, Pearson’s correlations and simultaneous multiple regression were performed using SPSS 14 software.
Hasil Penelitian
Simultaneous multiple regression of the students’ perceived learning environment on their academic achievement emotions showed that the perceived learning environment predicts the students’ academic emotions.
Kesimpulan
In general, academic emotions have received relatively little attention within educational research. The results of this study showed that academic emotions are differentially affected by perceived learning environment by students. These findings are of particular value for educators, for whom the affective well-being of their students should be a desired educational goal in itself.
Review/komentar
Dalam pembahasan jurnal ini ada yang menuliskan bahwa untuk membangun emosi yang positif, tergantung dari apakah materinya itu menarik, yang membawakan materinya itu profesional, dan suasana belajar yang nyaman. Emosi yang positif dapat memberikan hasil belajar yang baik, karena dari emosi positif tersebut siswa mudah mencerna informasi yang didapatnya.
Menurut saya, jurnal penelitian ini sangat bagus dijadikan sebagai referensi bagi pengajar atau calon pengajar, karena dari pembahasannya para reader bisa memilih metode pengajaran yang tidak monoton seperti top-down dimana hanya guru yang berperan aktif di kelas. Yang lebih diutamakan keaktifannya adalah murid.
Berdasarkan pengalaman pribadi, sebenarnya saya suka dengan mata kuliah psikologi pendidikan ini, tapi karena suasana ruangan yang pengap dan jam kuliah hampir petang, menimbulkan emosi yang negatif terhadap mata kuliah ini, sehingga saya kurang memahami apa yang dijelaskan oleh dosen dan teman-teman.



SHARE

About Anonim

0 komentar :

Posting Komentar