MK. Psikologi Pendidikan & Pengembangan Peserta
Didik
JOURNAL REVIEW
BY
:
DEVI
SAFITRI
NIM.
20400115055
PBI
3
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN ALAUDDIN MAKASSAR
2017
Review Jurnal
|
Judul
|
Hubungan
antara Sikap, Kemandirian Belajar, dan Gaya Belajar dengan Hasil Belajar
Kognitif Siswa
|
|
Penulis
|
Syamsu Rijal
dan Suhaedir Bachtiar
|
|
Nama Jurnal
|
Jurnal
BIOEDUKATIKA Vol. 3 No. 2 Desember 2015 ISSN: 2338-6630, Halaman 15-20
|
|
Latar Belakang
|
-
Jika seseorang
dapat mengenali gaya belajar sendiri, maka orang tersebut dapat mengelola
pada kondisi apa, di mana, kapan dan bagaimana seseorang dapat memaksimalkan
belajar. Biologi merupakan salah satu mata pelajaran yang didalamnya
mengandung berbagai istilah-istilah latin serta materi yang begitu kompleks
membuat siswa jenuh belajar, bahkan merasa sulit untuk memahaminya. Pemberian
strategi maupun metode yang telah diberikan oleh guru di kelas tidak
selamanya mampu mengakomodasi kebutuhan belajar siswa. Olehnya itu selain sikap
dan gaya belajar sebagai penunjang pembelajaran, kemandirian belajar siswapun
dituntut agar mampu memahami dan menguasai pelajaran.
-
Penelitian ini
bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara variabel sikap, kemandirian
belajar dan gaya belajar dengan hasil belajar kognitif biologi.
-
Gaya belajar
seseorang merupakan kombinasi dari menyerap informasi dengan mudah dan
kemudian mengatur serta mengolah informasi tersebut (DePorter dkk, 2008).
Setiap siswa menggunakan ketiga gaya ini pada tahapan tertentu, akan tetapi
salah satu dari ketiganya cenderung lebih menonjol.
|
|
Metode Penelitian
|
-
Penelitian ex
post facto
-
Seluruh siswa
di SMA Negeri 1 Ajangale Kabupaten Bone yang terdiri dari 21 rombongan
belajar. Tiap rombongan belajar berjumlah 38 orang siswa, jadi total populasi
dalam penelitian adalah 798 orang siswa.
-
Pemberian
angket (kuesioner) kepada siswa.
-
Analisis
statistik inferensial dengan uji korelasi product moment, regresi sederhana
dan berganda.
|
|
Hasil Penelitian
|
Analisis Hubungan antara Sikap dengan
Hasil Belajar Kognitif
Hasil analisis
deskriptif menunjukkan bahwa nilai sikap siswa terhadap pembelajaran biologi
di SMA Negeri 1 Ajangale Kabupaten terdapat 49% siswa berada pada kategori
negatif dan 51% berada pada kategori positif. Hal ini menunjukkan bahwa
terdapat sikap positif siswa dalam pembelajaran biologi.
Analisis Hubungan antara Kemandirian
Belajar dengan Hasil Belajar Kognitif
Hasil analisis
deskriptif menunjukkan bahwa kemandirian belajar siswa di SMA Negeri 1
Ajangale Kabupaten Bone termasuk dalam kategori tinggi dengan jumlah
responden 120 atau 57%. Kemandirian belajar siswa yang tinggi ini merupakan
salah satu faktor penyebab hasil belajar kognitif biologi yang diperoleh
berada pada kategori tinggi. Kemandirian belajar memberikan konstibusi sebesar
33,5% terhadap hasil belajar kognitif biologi.
Analisis Hubungan antara Gaya Belajar
dengan Hasil Belajar Kognitif
Hasil analisis
deskriptif menunjukkan bahwa tipe gaya belajar siswa di SMA Negeri 1 Ajangale
Kabupaten Bone didominasi oleh tipe visual sebanyak 90 siswa atau 42%. Gaya
belajar tipe auditori sebanyak 66 siswa atau 31%. Tipe kinestesik sebanyak 25
siswa atau 17%. Selebihnya tipe gaya belajar kombinasi hanya sebesar 10%.
Nilai persentase sebesar 42% pada tipe visual menunjukkan kecenderungan siswa
dalam proses pembelajaran biologi menitik beratkan ketajaman penglihatan.
Analisis Hubungan antara Sikap,
Kemandirian dan Gaya Belajar dengan Hasil Belajar Kognitif
Hasil
penelitian terkait korelasi keempat variabel yang diteliti yaitu sikap,
kemandirian belajar dan gaya belajar siswa dengan hasil belajar kognitif
biologi di SMA Negeri 1 Ajangale Kabupaten Bone, menunjukkan bahwa terdapat
hubungan antara sikap, kemandirian belajar dan gaya belajar siswa dengan
hasil belajar kognitif. Hubungan yang diperoleh diantara variabel tersebut
tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa.
|
|
Kesimpulan
|
1.
Terdapat
hubungan yang positif antara sikap siswa dengan hasil belajar kognitif
Biologi, dengan nilai korelasi sebesar 0,621.
2.
Terdapat
hubungan yang positif antara kemandirian belajar siswa dengan hasil belajar
kognitif Biologi, dengan nilai korelasi sebesar 0,579.
3.
Terdapat
hubungan yang positif antara gaya belajar siswa dengan hasil belajar kognitif
Biologi, dengan nilai korelasi sebesar 0,577.
4.
Terdapat
hubungan yang positif antara sikap, kemandirian belajar dan gaya belajar
siswa dengan hasil belajar kognitif Biologi di SMA Negeri 1 Ajangale
Kabupaten Bone.
|
|
Review/komentar
|
Dari
pembahasan jurnal tersebut, dijelaskan bahwa ada upaya-upaya yang yang
dilakukan dalam meningkatkan sikap siswa terhadap pembelajaran biologi
seperti pemanfaatan elektronik, media cetak, dan peranan orang tua. Ketiga
hal tersebut belum cukup, hal yang paling penting adalah dari pengajarnya
atau gurunya. Mengapa demikian? Walaupun gurunya sudah memanfaatkan
media-media yang telah disediakan pihak sekolah, jika gurunya tidak mampu
mentransfer ilmunya dengan baik dan kreatif, siswa kadang akan merasa jenuh
dengan pelajarannya. Selain itu, untuk meningkatkan sikap positif siswa
terhadap pelajaran biologi, guru juga seharusnya mampu melakukan pendekatan
terhadap siswanya. Tidak hanya sekedar sebagai pengajar, tapi juga bisa
menjadi teman siswanya, yang kemudian siswanya nanti bisa semangat ketika
belajar biologi karena gurunya yang friendly. Hal ini sesuai dengan teori
belajar humanistik.
|
|
Judul
|
PENERAPAN
TEORI BEHAVIORISTIK UNTUK MEMINIMALISIR PENGGUNAAN HANDPHONE PADA JAM PEMBELAJARAN
3 SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 TERAS KABUPATEN BOYOLALI TAHUN PELAJARAN
2014/2015
|
|
Penulis
|
Dimas Eko
Saputro
|
|
Nama Jurnal
|
Naskah
Publikasi Ilmiah, 2015
|
|
Latar Belakang
|
-
Tantangan
dunia pendidikan adalah etika, etika moral seorang siswa, hal ini tercermin
dari ditemukannya beberapa handphone siswa yang berisikan video porno, hal
ini menunjukkan kurangnya kesadaran siswa akan moral. Kini dunia handphone
adalah dunia untuk berkomunikasi, berbagi, mencipta dan menghibur dengan
suara, tulisan, gambar, musik dan video. Disamping harga yang ditawarkan
cukup terjangkau, berbagai fitur handphone juga diberikan sebagai penunjang
majunya teknologi.Namun terkadang juga handphone dapat mengganggu atau
memiliki beberapa hal negatif diantaranya tempat untuk menyimpan
gambar-gambar porno,atau menggunakan handphone saat tengah diadakan proses
belajar yang dapat mengganggu siswa atau perhatian dan minat mereka dalam
belajar menjadi berkurang di karenakan mereka lebih sibuk untuk saling
berkiriman pesan.
-
Tujuan yang
ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui ” Bagaimana
efektivitas konseling behavioristik untuk mengatasi penggunaan handphone pada
jam pembelajaran 3 siswa kelas VIII di SMP N 1 Teras Kabupaten Boyolali Tahun
pelajaran 2014/2015”
-
Menurut
Sayekti ( 2002 : 80 ) yang dipakai oleh behavior therapy adalah belajar.
Belajar yang dimaksud di sini adalah perubahan tingkah laku yang disebabkan
bukan karena kematangan .teori belajar yang dipakai dalam pendekatan ini
sebagai aplikasi dari percobaan – percobaan tingkah laku dalam laboratorium.
Para ahli barasumsi bahwa seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara
belajar,dan juga tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan
prinsip – prinsip belajar.
|
|
Metode Penelitian
|
-
Sesuai dengan tujuan
yang ingin dicapai oleh penulis tentang penelitian ini. Adalah Konseling
Behavioristik untuk meminimalisir penggunaan HP pada saat jam pembelajaran
kelas VIII mengikuti paradigma penelitian deskriptif kualitatif. Strategi
penelitian sangat tergantung pada hasil konseling Behavioristik dan peneliti
terjun langsung atau melakukan observasi partisipatif, karena dalam
eksplorasi kasus ternyata ada 3 siswa yang termasuk kategori mengoperasikan
HP pada saat jam pembelajaran.
-
3 Siswa Kelas
VIII SMP Negeri 1 Teras Kabupaten Boyolali Tahun Pelajaran 2014/2015
-
Metode
pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan observasi.
-
Keabsahan data
yang digunakan adalah teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik,
sedang untuk menganalisis datanya digunakan deskriptif kualitatif dengan
langkah-langkah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan
kesimpulan.
|
|
Hasil Penelitian
|
Temuan Studi
yang di Sekolah dan di Lapangan
Kondisi
Realitas Anak di Sekolah
Dari hasil
pengamatan guru BK maupun wali kelas diperoleh data bahwa ada 3 siswa yang
ber kebiasaan mengoperasikan HP pada saat jam pembelajaran.
Kajian Teori
Yang Dihubungkan Dengan Studi Di Lapangan
Upaya bimbingan
dan konseling siswa lebih lanjut
Dari hasil
pengamatan terhadap data peserta didik yang gemar menggunakan handphone pada
jam pembelajaran, ditemukan beberapa kondisi yang perlu ditindaklanjuti demi
penuntasa permasalahan siswa yang terkait dengan menggunakan handphone,
antara lain:
1.
Meningkatkan kumunikasi antara guru,dengan
siswa. Hal ini perlu dilakukan agar siswa mendapatkan perlakuan yang sama di
kelas maupun di sekolah.
2.
Mengedepankan komunikasi dengan siswa setiap
kali menemui permasalahan.
3.
Siswa di harapkan sering bertanya atau
bertukar pikiran dengan guru BK tentang permasalahan yang ada di sekolah.
|
|
Kesimpulan
|
Setelah
melakukan pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara maupun
dokumentasi yang kemudian hasil penelitian tersebut di analisis, maka dapat
disimpulkan bahwa: sebelum diberikan konseling behavior siswa mengoperasikan
HP setiap jam pembelajaran berlangsung, siswa tidak memperhatikan pelajaran,
nilai akademik kurang maksimal, sulit berkonsentrasi terhadap pelajaran.
Setelah dikonseling melalui behavior terapi selama satu bulan, maka ada
perubahan kearah yang lebih baik.
|
|
Review/komentar
|
Penelitian ini
cukup sederhana tapi sangat bermanfaat. Karena di dalam penelitian ini,
dilakukan Behavior Therapy yang tujuannya dalah untuk membantu klien untuk
membuang respon-respon yang lama yang merusak diri, dan mempelajari
respon-respon yang baru yang lebih sehat. Meskipun tidak dijelaskan dengan
rinci di dalam jurnal tersebut mengenai teknik yang digunakan (caranya klien
dibuat rilex, kemudian membayangkan hal yang disenangi dan yang tidak
disenangi), saya berusaha mencari beberapa informasi melalui internet tentang
teknik yang digunakan tersebut. teknik Covert Sensitization ini memang cocok
digunakan untuk penyembuhan kecemasan, termasuk kecemasan jika tidak memgang
handphone. Ketika kita mempunyai kecemasan terhadap sesuatu, kecemasan itu
harus selalu dibayangkan atau dihadapi. Maksudnya, jika subjeknya tidak bisa
lepas handphonenya, kliennya itu harus dihadapkan pada kondisi yang dia tidak
sukai yaitu tidak memegang handphonenya. Tapi secara bertahap. Disini peran
dari penelitinya sangat penting, bagaimana peneliti mampu membuat rileks si
kliennya dulu baru mengantarkan klien ke situasi yang tidak disukainya secara
bertahap. Saya sangat tertarik dengan penelitian yang satu ini, karena
memberikan saya informasi mengenai teknik agar kita bisa merubah kebiasaan
buruk menjadi kebiasaan yang lebih baik melalui bihavior therapy.
|
|
Judul
|
What counts as
effective input for word learning?
|
|
Penulis
|
Laura A.
Shneidman, Michelle E. Arroyo,
Susan C.
Levine and Susan Goldin-Meadow
|
|
Nama Jurnal
|
BRIEF RESEARCH
REPORT, 2011.
|
|
Latar Belakang
|
-
Many studies
have demonstrated the important link between childdirected speech from a
primary caregiver and the child’s lexical, semantic and syntactic
development. However, to our knowledge, no study has considered the impact
that input from other naturalistic sources has on children’s later language
development. Many children live in households where multiple adults and other
children are present for large portions of the day. In such households, young
children are likely to hear speech directed to them from older siblings and
other household members. Moreover, these children are likely to overhear
speech not directly addressed to them at all. Little is known about the
frequency of speech from these input sources in multi-party households, nor
about the impact that speech input from different sources has on children’s
later language outcomes.
-
The goal of
this article is to begin to address these issues by considering lexical input
and vocabulary development in children growing up in households where
multiple speakers are regularly present.
-
Experimental
evidence suggests that children have the ability to learn new words from
overhearing speech (e.g. Akhtar, 2005; Akhtar, Jipson & Callanan, 2001;
Floor & Akhtar, 2006; Shneidman, Buresh, Shimpi, Knight-Schwartz &
Woodward, 2009). At age 1;6, children can learn a novel object label from an
overheard utterance when the learning task is sufficiently simplified (i.e.
when children are tested immediately following a labeling demonstration;
Floor & Akhtar, 2006). By age 2;6, children show a robust ability to
learn from overheard interactions in an experimental paradigm (Akhtar, 2005).
|
|
Metode Penelitian
|
-
Thirty
monolingual English-speaking families containing a target child were selected
from a sample of sixty-five families participating in a longitudinal study of
language development in the greater Chicago area.
-
Documentation
-
Videotape
-
Kualitatif and
kuantitatif
|
|
Hasil Penelitian
|
Child language at 2;6 and 3;6
On average,
the groups did not differ in either the size of their productive vocabularies
at 2;6 or their receptive vocabularies at 3;6. We turn next to a comparison
of the linguistic environments to which children growing up in the
multi-speaker vs. single-speaker groups were exposed at 2;6.
Linguistic environment in
single-speaker and multi-speaker households
The children
in our study who spent many hours with a variety of speakers heard more input
overall (equal amounts of speech directed to them, and more overheard speech)
than children who spent most of their waking hours with a single caregiver.
Input from the primary caregiver and
vocabulary development
There were no
group or interaction effects. Since word tokens and word types are highly
correlated in our sample (r=0.94, p<0.001), it is impossible to determine which
measure better accounts for the relation between input and vocabulary.
Input from all sources and vocabulary
development
Our findings underscore
the fact that not all input has equal potential for supporting word learning.
We found that speech directed to the child uniquely predicts children’s PPVT
score. If we consider only speech overheard by the child in a model that
predicts PPVT score, we find no relation between input and vocabulary
(b=x0.06, p=0.80, for overheard tokens; b=x0.06, p=0.82 for overheard types).
There appears to be something special about speech directed to the child for
informing lexical development.
|
|
Kesimpulan
|
For children
in our study who routinely heard talk from many speakers, the size of their
receptive vocabulary, as measured by the PPVT, was related to talk directed
to them by all speakers, not just their primary caregiver. Interestingly,
however, overhead speech did not add predictive value to this relationship.
Thus, not all speech that children hear is equally relevant for word
learning, at least in a culture where children are routinely addressed
directly. Our data do not speak to children growing up in cultures where they
are rarely addressed directly, and where they may, by necessity, make more
effective use of overheard speech.
|
|
Review/komentar
|
Yang saya
pahami dari jurnal ini adalah anak-anak yang sering mendengarkan orang lain
berbicara, baik itu dari keluarganya atau pun dari pengasuhnya, tidak
menambah perbendaharaan kata yang dimiliki anak, kecuali kata itu sering
digunakan dalam kesehariaannya atau sering didengarkan. Selain itu, apa bilai
kata itu juga tidak sesuai dengan kebudayaan sang anak, maka juga akan sulit
bagi anak untuk memasukkan kata tersebut ke dalam kosa katanya sendiri. Tapi
dari pengalaman pribadi, walaupun kata itu hanya sekali saya dengar, jika
kata itu berkesan maka saya akan sering mengingatnya. Mungkin dari jurnal ini
masih membutuhkan penelitian yang lebih lanjut agar peneliti bisa mengetahui
bagaimana anak belajar kosa kata.
|
|
Judul
|
Social
development of children with mental retardation
|
|
Penulis
|
Indrabhushan
Kumar, Amool R. Singh, S. Akhtar
|
|
Nama Jurnal
|
Industrial
Psychiatry Journal, 2009, Vol 18
|
|
Latar Belakang
|
-
Becoming
socialized involves 3 processes: i) learning to behave in socially approved
ways, ii) playing approved social
roles and iii) development of social attitudes (Hurlock, 1967). For people
with mental retardation, their eventual level of social development has
implication for the degree of support needed in their literacy arrangement
and their integration in the community with increasing emphasis on
mainstreaming the attainment of skills in personal, domestic and community
functioning. It also contributes considerably to quality of life. Thus
investigation of factors that may facilitate or inhibit social development
assumes particular importance. Mentally retarded children, due to low
intellectual growth, function with a limited capacity in comparison to normal
children. Shastri and Mishra (1971) assessed 56 school-going children (aged
6- 13 years) with mental retardation with the help of Social Maturity Scale
and found that the mentally retarded children function more in the lower
level of social interaction. They also found that the level of social
development varies with the intellectual level among persons with mental
retardation, or a wide range of family and environmental variables may also
influence social development.
-
In the light
of the above investigation, the present study was designed with the following
aims: (1) to find out the effects of severity of mental retardation on social
development, along with possible correlation with social quotient (SQ) and
IQ, which will eventually help in formulating appropriate training management
and rehabilitation of mentally retarded children; and (2) to find out the
relationship between age and social development.
-
Mental
retardation (MR) is one of the most distressing handicaps in any society.
Development of an individual with mental retardation depends on the type and
extent of the underlying disorder, the associated disabilities, environmental
factors, psychological factors, cognitive abilities and comorbid
psychopathological conditions (Ludwik, et al., 2001). Social development
means acquisition of the ability to behave in accordance with social expectations
(Pati et al., 1996).
|
|
Metode Penelitian
|
-
Mentally
retarded children were identified on the basis of International
classification of disease 10th revision (Diagnostic criteria for research).
Informed consent was taken from the informants before eliciting relevant
information, and the nature and purpose of the study were explained. All
subjects who were selected for the present study were interviewed and then
assessed for IQ with the help of Stanford Binet Intelligence Scale.
Thereafter, Vineland Social Maturity Scale was administrated to know the
level of social development of each subject.
-
The present
study was carried out on a sample of 35 mentally retarded children (mean age,
14.17 years; SD, 5.5) chosen at random from the Central Institute of Psychiatry,
Kanke, Ranchi (Jharkhand). The sample included 19 males and 16 females.
Children with comorbid epilepsy, sensory deficit (like impairment of vision,
hearing), other psychiatric disorders and physical problems were excluded.
-
Data has been
analyzed using means, standard deviations, Kruskal-Wallis (nonparametric)
one-way ANOVA test, chi-square test and Pearson correlation on social
quotient.
-
Specially
designed socio-demographic data sheet, vineland social maturity scale (Nagpur
adaptation), stanford Binet intelligence scale (Hindi adaptation).
|
|
Hasil Penelitian
|
Computed value
of Pearson correlation coefficient between IQ and SQ was.785, which is
significant. This may indicate relationship between IQ and SQ, i.e.,
relationship between intellectual capacity and social development. This study
shows that as the level of mental retardation increases, social development
decreases correspondingly. There was no impact of the age factor on the
social development of mentally retarded children.
Right from the
very beginning, there is an effective role for parents, teachers and other
professionals in the enhancement of social skills of mentally retarded
children. This study opens the path for research to determine whether there
is any impact of special education and training on the social development of
mentally retarded children of various age groups.
Because of
time constraints and excessive workloads, trained psychologists are unable to
assess the IQ, as the number of clinical psychologists throughout India is
about 600‑700 (Nathawat et al., 2001). Therefore, other methods are required
for IQ assessment. Among the various techniques, social development scale is
a very important method to determine one’s IQ. This social development scale
is relatively easy to administer and has practical application in the
assessment of IQ. It has also been found important in the management of
disabled persons. SQ and IQ are highly correlated (.80) on the Stanford Binet
Intelligence Scale; and the same has been found in the index study as well.
Magnitude of MR is known by SQ where IQ testing is not possible.
|
|
Kesimpulan
|
It can be
concluded that the social quotient increases as level of mental retardation
decreases from profound to mild. The social quotient across different age ranges
does not differ significantly. Clinical psychologists who are working with
underprivileged children/individuals may use the Vineland Social Maturity
Scale as a rapid screening test for determining IQ and capacity for social
adjustment.
|
|
Review/komentar
|
Yang saya
tangkap dari jurnal tersebut, jika semakin meningkat retardasi mental
seseorang, maka perkembangan sosial juga menurun. Keterbatasan mental memang
kadang sangat mempengaruhi kehidupan kita di masyarakat. Kadang mereka sulit
menerima kehadiran orang-orang yang berbeda secara mental atau fisik. Hal ini
yang membuat orang-orang dengan reterdasi mental sulit untuk berbaur dengan
lingkungannya. Di pembahasannya masih belum menjelaskan apakah penurunan
perkembangan sosial yang diakibatkan dari reterdasi mental dapat mempengaruhi
IQ seseorang. Tapi menurut saya hal ini sebenarnya ada pengaruhnya, karena
setiap anak dilahirkan memiliki intelegensi masing-masing. Namun, jika anak
tersebut tidak dapat mengembangkannya di dunia sosial mereka, hal ini juga
dapat menghambat apa yang menjadi kelebihan mereka. Disinilah teori
humanistik dibutuhkan lagi, terkhusus peran orang tua yang menjadi orang
paling dekat. Saya sangat setuju dengan adanya rehabilitasi untuk orang-orang
yang mengalami reterdasi mental. Orang tua harus memberikan support kepada
anak-anak mereka dengan cara memberikan pelatihan, pengelolaan, dan
rehabilitas. Ini dimaksudkan agar anak mampu menghadapi dunia luar (percaya
diri) dengan kelebihan yang mereka miliki di balik keterbatasannya.
|
|
Judul
|
Medical
students’ academic emotions: the role of perceived learning environment
|
|
Penulis
|
Naeimeh
Kohoulat, Ali Asghar Hayat, Mohammad Reza Dehghani, Javad Kojuri, and Mitra
Amini
|
|
Nama Jurnal
|
Journal of
Advances in Medical Education & Professionalism, 2017 Apr; 78–83.
|
|
Latar Belakang
|
-
For many
decades, the studies which investigated the relationship between student
outcomes and their perceptions of the classroom environment have shown that
that there is an association between student outcomes and learning
environment. Actually, it is stated that there is a relationship between
students’ perceptions of classroom and learning environment and their
cognitive, affective, emotional and behavioral outcomes.
-
The goal of
this study was to examine the effects of students’ perceived learning
environment on their academic achievement emotions.
-
Specifically,
Bloom described the educational or learning environment concept as “the
conditions, forces, and external stimuli which challenge on the individual.
These may be physical, social, as well as intellectual forces and
conditions”. Bloom regarded the environment as providing a network of “forces
and factors which surround, engulf, and play on the individual”. Genn
explained the learning environment as “the curriculum’s most significant
manifestation and conceptualization, educational and organizational, which
embraces everything that is happening in the medical school”
Fraser and Fisher in their study on
affective and cognitive outcomes of the perceived classroom environment found
positive correlations between perceptions of participation, affiliation,
involvement, order and organization, task orientation and rule clarity in the
class and the students’ average enjoyment of science lessons.
|
|
Metode Penelitian
|
-
The research
method used was descriptive-correlative.
-
The
statistical population consisted of medical students of Shiraz University of
Medical Sciences. Stratified sampling method was used to select 342
participants.
-
Self-report
questionnaires of Dundee Ready Educational Environment Measure (DREEM) and
Achievement Emotions Questionnaire (AEQ).
-
All
descriptive statistics, Pearson’s correlations and simultaneous multiple
regression were performed using SPSS 14 software.
|
|
Hasil Penelitian
|
Simultaneous
multiple regression of the students’ perceived learning environment on their
academic achievement emotions showed that the perceived learning environment
predicts the students’ academic emotions.
|
|
Kesimpulan
|
In general,
academic emotions have received relatively little attention within
educational research. The results of this study showed that academic emotions
are differentially affected by perceived learning environment by students.
These findings are of particular value for educators, for whom the affective
well-being of their students should be a desired educational goal in itself.
|
|
Review/komentar
|
Dalam
pembahasan jurnal ini ada yang menuliskan bahwa untuk membangun emosi yang
positif, tergantung dari apakah materinya itu menarik, yang membawakan
materinya itu profesional, dan suasana belajar yang nyaman. Emosi yang
positif dapat memberikan hasil belajar yang baik, karena dari emosi positif
tersebut siswa mudah mencerna informasi yang didapatnya.
Menurut saya,
jurnal penelitian ini sangat bagus dijadikan sebagai referensi bagi pengajar
atau calon pengajar, karena dari pembahasannya para reader bisa memilih
metode pengajaran yang tidak monoton seperti top-down dimana hanya guru yang
berperan aktif di kelas. Yang lebih diutamakan keaktifannya adalah murid.
Berdasarkan
pengalaman pribadi, sebenarnya saya suka dengan mata kuliah psikologi
pendidikan ini, tapi karena suasana ruangan yang pengap dan jam kuliah hampir
petang, menimbulkan emosi yang negatif terhadap mata kuliah ini, sehingga
saya kurang memahami apa yang dijelaskan oleh dosen dan teman-teman.
|

0 komentar :
Posting Komentar