I LAGALIGO SERI 2

Written By Anonim on Senin, 10 Juli 2017 | Juli 10, 2017



RINGKASAN CERITA I LAGALIGO SERI 2


Ketika We Datu Sengngeng mengandung, ia mengidam ingin memakan buah-buahan. Ia juga Ia juga ingin melihat para nelayan menangkap ikan yang berlalu lalang di bawah istana Manurungnge, ikan raksasa wellu walume, dan melihat wangkang pasar Jawa yang berlabuh di depan istana. Permintaannya itu pun dikabulkan Dewi Maoro, I Sang Iyang.
Memasuki usia tujuh bulan kandungan istrinya, Batara Lattuk memerintahkan untuk mengurut perut istrinya dengan upacara Sang Hiyang Orang Bottilangi. Pada suatu malam yang sunyi, ketika usia kandungannya menginjak lima belas bulan, perutnya mulai terasa sakit.  Tiba saatnya We Datu Sengngeng untuk melahirkan anak kembarnya. Selama 5 hari dia harus menahan sakit karena kedua anak yang ada dalam perutnya susah dikeluarkan. Namun di siang hari ketika cuaca tiba-tiba saja berubah menjadi gelap, Sawerigading lahir baru kemudian We Tenriabeng.
Setalah usia kedua bayi kembar itu bertambah, We Nyeliktimo nenek sang bayi merasa sudah saatnya cucu kembarnya untuk dinaikkan ke ayunan keemasan dengan tata cara upacara agung ayunan emas Toddattoja oleh Puang Ri Warek.
Di saat Sawerigading dan We Tenriabeng berusia lima tahun, Batar Guru bermimpi melihat dirinya naik ke Bottilangi. Mimpi itu menjadi pertanda bahwa dia harus kembali ke Bottilangi bersama istri dan pengikut lainnya atas perintah Dato Patotoe, ayah Batara Guru. We Nyeliktimo dan Batara Lattuk merasa sangat sedih atas kepergian mereka.
Sepulu tahun kemudian, karena mendengar suara Sawerigading dan sepupu-sepupunya yang bersorak-sorak dan tertawa terbahak-bahak dari Bottilangi, Datu Pototoe lalu mengirimkan surat emas kepada cucunya Batara Lattuk, agar mau mengirimkan putranya bersepupu naik ke Bottilangi. Batara Lattuk pun menyampaikan pesan dari ayahnya kepada Sawerigading. Sawerigading akhirnya pergi ke Bottilangi ditemani La Pananrangan, La Sinilele, dan La Massaguni. Sesampainya di Bottilangi, mereka bertemu dengan Datu Pattotoe. Datu Patotoe menawarkan Sawerigading sebagai raja di Rualette dan dijodohkan dengan sepupunya, Tanratellue. Tawaran tersebut ditolak Sawerigading karena dia lebih memikirkan orang tuanya di bumi. Selama 3 bulan menjalani kehidupan di Bottilangi, Sawerigading dan sepupunya meminta izin untuk kembali ke istana Manurungnge. Tiba di istana, Batara Lattuk dan istrinya bernazar ingin mengadakan pesta besar atas kepulangan anaknya. Di pesta itulah Sawerigading bertemu dengan We Panangngarang. Dia jatuh cinta pada sepupu satu kalinya itu dan ingin menikahinya. Kedua orang tuanya menyetujui keinginan Sawerigading. Pesta pernikahan dilangsungkan di istana raja di Luwuk sesuai aturan adat istiadat. Wajah kedua mempelai itu dironai kebahagiaan.
Lima bulan setelah pernikahannya itu, Sawerigading menghadap ayah bundanya untuk menyampaikan keinginannya memadu istrinya dengan sepupunya sendiri jika keduanya merestui, We Saweyase. Pernikahan itu pun dilangsungkan seperti pernikahannya dengan We Panangngarang. Hari demi hari dilewatkan dengan keindahan.
Pada suatu hari, Sawerigading mmohon izin kepada kedua orang tuanya untuk berlayar ke negeri seberang untuk menyabung. Batara Lattuk sangat gembira mendengar keinginan putranya. Ia merestui keinginan putranya itu, namun ia harus didampingi oleh sepupunya. Sawerigading berlayar menjelajahi negeri-negeri tempat sepuluh pamannya berkuasa. Semenatar itu, Batar Lattuk berunding dengan kakak-kakaknya untuk mengadakan upacara tappujuru bagi We Tenriabeng. Saat itulah yang paling tepat untuk dilaksanakan, mengingat amanah Sri Paduka Manurungnge Batara Guru yang melarang Sawerigading bertemu dengan saudara kembarnya. Setelah berlayar, sawerigading kembali ke Aleluwuk. Kakak-kakak Batara Lattuk mengingatkannya tentang keadaan We Tenriabeng yang sudah menginjak dewasa namun belum diupacarai tuppu juruknya. Mereka berinisiatif  untuk mengutus Sawerigading menghadiri upacara kebesaran merajah di Maloku agar upacara tuppu juruk We Tenriabeng bisa dilaksanakan.
Diperjalanannya menutju ke Maloku, Sawerigading smenyempatkan ke Tompo Tikka menjenguk bibinya, We Andiluwuk yang sedang dilanda kesedihan karena anaknya La Tenrirawe yang diasingkan sebab saudara kembarnya, Pallawagauk sangat mencintainya dan ingin menikahi saudara kembarnya itu tetapi tak ada yang setuju karena akan menimbulkan mala petaka jika mereka menikah. Setelah tujuh hari, Sawerigading dan yang lainnya meninggalkan negeri Tompo Tikka lalu singgah di dermaga Wadeng. Di sana Sawerigading bertemu dengan La Tenrirawe yang menjadi satu-satunya istri La Tenripeppang, penguasa di Wadeng. Namun ia tidak sempat ke daratan Wadeng karena harus segera bergegas menuju Maloku.
Setalah mengarungi lautan dan melewati beberapa negeri, nampaklah dari kejauhan di seberang lautan negeri Sama yang ingin mereka tuju. Di sana mereka disambut oleh To Appamadeng, kakak sepupu Sawerigading. Upacara marajah La Maddaremeng itu dihadiri tamu undangan dari Jawa Timur, Jawa Barat, Saddeng atas, Saddeng bawah, Sunra Timur, dan Sunra barat. Di antara para tamu yang datang, Sawerigading tertarik pada I La Galigo yang menjadi pasangannya di arena sabung ayam. Ketika ayam dari I Lagaligo menang, dia menari-nari kegiarangan membuatnya hampir menyentuh ujung sarung anak raja Maloku. Di dalam hati Sawerigading senang melihat perilaku I Lagaligo. I berharap jika kelak ia mempunyai anak laki-laki ia akan memberinya nama I Lagaligo agar mempunyai watak yang sama dengan I Lagaligo dari Kelling.

Writer: Devi Safitri

SHARE

About Anonim

0 komentar :

Posting Komentar