RINGKASAN CERITA I LAGALIGO SERI 2
Ketika
We Datu Sengngeng mengandung, ia mengidam ingin memakan buah-buahan. Ia juga Ia juga ingin melihat para nelayan menangkap ikan
yang berlalu lalang di bawah istana Manurungnge, ikan raksasa wellu walume, dan
melihat wangkang pasar Jawa yang berlabuh di depan istana. Permintaannya itu
pun dikabulkan Dewi Maoro, I Sang Iyang.
Memasuki usia tujuh bulan kandungan istrinya, Batara
Lattuk memerintahkan untuk mengurut perut istrinya dengan upacara Sang Hiyang
Orang Bottilangi. Pada suatu malam yang sunyi, ketika usia kandungannya
menginjak lima belas bulan, perutnya mulai terasa sakit. Tiba saatnya We Datu
Sengngeng untuk melahirkan anak kembarnya. Selama 5 hari dia harus menahan
sakit karena kedua anak yang ada dalam perutnya susah dikeluarkan. Namun di
siang hari ketika cuaca tiba-tiba saja berubah menjadi gelap, Sawerigading
lahir baru kemudian We Tenriabeng.
Setalah usia kedua bayi kembar itu bertambah, We
Nyeliktimo nenek sang bayi merasa sudah saatnya cucu kembarnya untuk dinaikkan
ke ayunan keemasan dengan tata cara upacara agung ayunan emas Toddattoja oleh
Puang Ri Warek.
Di
saat Sawerigading dan We Tenriabeng berusia lima tahun, Batar Guru bermimpi
melihat dirinya naik ke Bottilangi. Mimpi itu menjadi pertanda bahwa dia harus
kembali ke Bottilangi bersama istri dan pengikut lainnya atas perintah Dato
Patotoe, ayah Batara Guru. We Nyeliktimo
dan Batara Lattuk merasa sangat sedih atas kepergian mereka.
Sepulu
tahun kemudian, karena mendengar suara Sawerigading dan sepupu-sepupunya yang
bersorak-sorak dan tertawa terbahak-bahak dari Bottilangi, Datu Pototoe lalu
mengirimkan surat emas kepada cucunya Batara Lattuk, agar mau mengirimkan
putranya bersepupu naik ke Bottilangi. Batara Lattuk pun menyampaikan pesan
dari ayahnya kepada Sawerigading. Sawerigading akhirnya pergi ke Bottilangi
ditemani La Pananrangan, La Sinilele, dan La Massaguni. Sesampainya di
Bottilangi, mereka bertemu dengan Datu Pattotoe. Datu Patotoe menawarkan
Sawerigading sebagai raja di Rualette dan dijodohkan dengan sepupunya,
Tanratellue. Tawaran tersebut ditolak Sawerigading karena dia lebih memikirkan
orang tuanya di bumi. Selama 3 bulan menjalani kehidupan di Bottilangi, Sawerigading
dan sepupunya meminta izin untuk kembali ke istana Manurungnge. Tiba di istana, Batara Lattuk dan
istrinya bernazar ingin mengadakan pesta besar atas kepulangan anaknya. Di
pesta itulah Sawerigading bertemu dengan We Panangngarang. Dia jatuh cinta pada
sepupu satu kalinya itu dan ingin menikahinya. Kedua orang tuanya menyetujui
keinginan Sawerigading. Pesta pernikahan dilangsungkan di istana raja di Luwuk
sesuai aturan adat istiadat. Wajah kedua mempelai itu dironai kebahagiaan.
Lima bulan setelah pernikahannya itu, Sawerigading
menghadap ayah bundanya untuk menyampaikan keinginannya memadu istrinya dengan
sepupunya sendiri jika keduanya merestui, We Saweyase. Pernikahan itu pun
dilangsungkan seperti pernikahannya dengan We Panangngarang. Hari demi hari
dilewatkan dengan keindahan.
Pada suatu hari, Sawerigading mmohon izin kepada
kedua orang tuanya untuk berlayar ke negeri seberang untuk menyabung. Batara
Lattuk sangat gembira mendengar keinginan putranya. Ia merestui keinginan
putranya itu, namun ia harus didampingi oleh sepupunya. Sawerigading berlayar
menjelajahi negeri-negeri tempat sepuluh pamannya berkuasa. Semenatar itu,
Batar Lattuk berunding dengan kakak-kakaknya untuk mengadakan upacara tappujuru
bagi We Tenriabeng. Saat itulah yang paling tepat untuk dilaksanakan, mengingat
amanah Sri Paduka Manurungnge Batara Guru yang melarang Sawerigading bertemu
dengan saudara kembarnya. Setelah berlayar, sawerigading kembali ke Aleluwuk.
Kakak-kakak Batara Lattuk mengingatkannya tentang keadaan We Tenriabeng yang
sudah menginjak dewasa namun belum diupacarai tuppu juruknya. Mereka
berinisiatif untuk mengutus Sawerigading
menghadiri upacara kebesaran merajah di Maloku agar upacara tuppu juruk We
Tenriabeng bisa dilaksanakan.
Diperjalanannya menutju ke Maloku, Sawerigading smenyempatkan
ke Tompo Tikka menjenguk bibinya, We Andiluwuk yang sedang dilanda kesedihan
karena anaknya La Tenrirawe yang diasingkan sebab saudara kembarnya,
Pallawagauk sangat mencintainya dan ingin menikahi saudara kembarnya itu tetapi
tak ada yang setuju karena akan menimbulkan mala petaka jika mereka menikah.
Setelah tujuh hari, Sawerigading dan yang lainnya meninggalkan negeri Tompo
Tikka lalu singgah di dermaga Wadeng. Di sana Sawerigading bertemu dengan La
Tenrirawe yang menjadi satu-satunya istri La Tenripeppang, penguasa di Wadeng.
Namun ia tidak sempat ke daratan Wadeng karena harus segera bergegas menuju
Maloku.
Setalah mengarungi lautan dan melewati beberapa
negeri, nampaklah dari kejauhan di seberang lautan negeri Sama yang ingin
mereka tuju. Di sana mereka disambut oleh To Appamadeng, kakak sepupu
Sawerigading. Upacara marajah La Maddaremeng itu dihadiri tamu undangan dari Jawa
Timur, Jawa Barat, Saddeng atas, Saddeng bawah, Sunra Timur, dan Sunra barat.
Di antara para tamu yang datang, Sawerigading tertarik pada I La Galigo yang
menjadi pasangannya di arena sabung ayam. Ketika ayam dari I Lagaligo menang,
dia menari-nari kegiarangan membuatnya hampir menyentuh ujung sarung anak raja
Maloku. Di dalam hati Sawerigading senang melihat perilaku I Lagaligo. I berharap
jika kelak ia mempunyai anak laki-laki ia akan memberinya nama I Lagaligo agar
mempunyai watak yang sama dengan I Lagaligo dari Kelling.
Writer: Devi Safitri

0 komentar :
Posting Komentar